Temanku yang di Belanda barusan bilang kalau liburannya dimajukan akhir tahun ini. Biasanya dia ke Indonesia awal tahun, pas musim disana sedang dingin banget. Tapi kali ini dia pulang seputar Natal. Liburan maju itu bukan disengaja, loh.. dia menandaskan berulang kali. Tapi gegara dia salah menghitung cuti.
Jadi disana itu, pekerja bisa mengumpulkan jatah libur mingguan. Biasanya mereka akan menghitung jatah libur dan menggabungkannya dengan jatah cuti tahunan. Kalau cermat, bisa mendapatkan libur panjang sampai 2 bulan. Dan itu yang sering dia lakukan, sehingga bisa puaaas banget tinggal dan berkeliling Indonesia.
“Nanti temenin aku beli cilok langgananmu, yo..”
“Hmm…”, jawabku.
“Beli rujak Bu Bokin, juga..”
“He em..”, jawabku lagi.
“Anterin ke alon-alon sama kebon rojo”
“Yup”,, jawabku pendek. Eh, wait.. “ngapain ke sana?”, selidikku.
“Beli tahu solet. Hahhaha..”, dia tergelak.
“Oooo…”, jawabku., “trus.. adalagi? Ku-list dari sekarang”.
“Ngg…”, dia tampak berpikir keras, “onok se, tapi koyoke awakmu gak bakal gelem“, lanjutnya sambil cengengesan.
“Apa?”, tanyaku sambil mengeryit.
“Temani aku ke pasar, hahaks!”
“Ogah! Big NO”, jawabku ketus. Sementara dia ngakak tak berkesudahan.
Bukannya aku gak mau membantunya mengobati rasa kangennya akan Jombang, tapi suer deh.. kapok aku ngajak dia ke pasar. Yang sudah – sudah, dia bakalan ngajak temannya yang bule, dan jadi artis dadakan di pasar. Itu belom seberapa, yang lebih menyebalkan adalah harga belanjaan yang tiba – tiba jadi sesuai kurs EURO ke Rupiah.
Jadi mumpung kejadian belum berulang, kutolak mentah – mentah permintaannya itu.
No comments:
Post a Comment